Teori Belajar dan Implikasinya dalam Proses Pembelajaran
Tema Program Sang Guru Edisi 03 Februari 2018

By Dr. Sudarman, S.Pd.,M.Pd 03 Feb 2018, 09:07:59 WIB Kurikulum
Teori Belajar dan Implikasinya dalam Proses Pembelajaran

Pendahuluan

Peningkatan mutu pendidikan tampaknya masih merupakan isu sentral yang tak ada habisnya di Indonesia. Ibarat perjalanan seorang musafir yang terus mengembara tiada akhir. Kalaupun pengembaraan itu terus berlangsung, biarlah menjadi sebuah proses tiada henti dari beragam pemikiran dan kreativitas insan cendekia di kancah dunia pendidikan. Namun hal yang paling mendasar yang harus kita pikirkan adalah bagaimana menjadikan pengalaman-pengalaman berharga kita menjadi ide dasar dalam praktek penyelenggaraan pendidikan.

Bagi kita yang aktif dalam dunia pendidikan ataupun yang memiliki high responsibility terhadap dunia pendidikan pasti akan mempertanyakan , apa sebenanya belajar itu, bagaimana belajar itu terjadi dan pembelajaran itu berlangsung serta teori apa yang melandasi proses pembelajaran. Tulisan artikel ini lebih terfokus dalam mengkaji tentang teori behavioristik dan konstruktivistik, namun untuk lebih mengantarkan kepada bahasan tersebut , penulis ingin menjelaskan secara selintas tentang apa arti belajar dan pembelajaran .

Teori Belajar ialah pandangan yang amat mendasar, sistematis dan menyeluruh tentang proses bagaimana manusia, khususnya anak didik. Beberapa teori-teori yang dikembangkan dalam pandangan-pandangan tentang teori aktualisasi diri dan teori apersepsi. Beberapa teori meningkatkan proses peningkatan (bertambahnya) wawasan, pengetahuan dan harapan anak. Jadi teori amat meningkatkan diri pada pembentukan aspek psikologis, khususnya pada pembentukan “pola pikir” anak. Proses belajar anak terjadi dalam kaitan interaksi antara person dengan dume organisme, antara lingkungan psikologi dengan lingkungan fisik atau biologis. Belajar berarti proses mengorganisasi kembali persepsi dan kognisi anak untuk mencapai tingkat pengerian tertentu.

Sementara itu menurut pandangan Slavin dalam Trianto (2009:16) belajar secara umum diartikan sebagai perubahan pada individu yang terjadi melalui pengalaman, dan bukan karena pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya atau karakteristik seseorang sejak lahir. Sementara makna pembelajaran yakni produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. Dalam makna yang lebih kompleks pembelajaran hakekatnya adalah usaha sadar dari seseorang guru untuk membelajarkan siswa dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan, dari makna ini jelas terlihat bahwa pembelajaran merupakan interaksi dua arah antara guru dan siswanya dan terjadi interaksi dan komunikasi yang intens dan terarah.

Berkenaan dengan pandangan dan pemikiran singkat diatas tentang belajar dan pembelajaran, perlu kiranya penulis melakukan telaah lebih dalam tentang teori behavioristik dan teori konstruktivistik berikut tokoh-tokoh yang menjadi peletak dasar dari perkembangan teori-teori tersebut.

Teori Pembelajaran Behavioristik

Berbagai kajian secara sistematik tentang pembelajaran masih relatif baru. Pembelajaran belum dikaji dan dipelajari secara ilmiah hingga akhir abad sembilan belas secara ilmiah.

Menurut aliran tingkah laku, belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon atau lebih tepat  perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.  Pandangan ini dikenal dengan aliran Behaviorisme yang mempunyai pandangan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang diamati, bukan dengan proses mental.

Menurut kaum Behavioris, pemikiran, perasaan, dan motif bukan subyek yang tepat untuk ilmu perilaku sebab semuanya itu tidak bisa diobservasi. Meskipun semua penganut aliran ini setuju dengan premis dasar ini, namun mereka berbeda pendapat dalam bebera-pa hal penting. Berikut ini kita kaji hasil karya dari beberapa penganut aliran ini yang dianggap paling penting, yaitu Ivan Pavlov, Thorndike, Watson, Hull, Guthrie, dan B.F Skiner.

Ivan Pavlov  (1849-1936) ,

Fisiologi Rusia Penyusun Pengkondisian Klasik.

Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta. Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi. Pavlov lulus sebagai sarjana kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Pada tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan. Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika. Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902) dan Conditioned Reflexes(1927).

Classic conditioning ( pengkondisian klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. Pavlov menyadari bahwa asosiasi terhadap penglihatan dan suara dengan makanan ini merupakan tipe pembelajaran yang penting ,

Pengkodisian Klasik adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasi stimuli. Dalam pengkondisian klasik, stimulus netral diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respon yang sama. Sebuah cara untuk memahami teori penkondisian Pavlov kita harus memahami dua tipe stimuli dan dua tipe respon yakni : unconditioned stimulus (US), unconditioned respon (UR), conditioned stimulus (US) dan conditioned Respon (UR).

Cara kerja pengkondisian klasik. Unconditional stimulus (US) adalah stimulus yang langsung secara otomatis menghasilkan respon tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu. Dalam eksperimen Pavlov, makanan adalah US. Unconditioned response (UR) respon yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US (air liur anjing yang merespon makanan). Sebuah conditioned stimulus(CS) adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya menghasilkan conditioned respon setelah diasosiasikan dengan US. Diantara stimuli yang terkondisikan dalam eksprimen Pavlov adalah beberapa penglihatan dan pendengaran sebelum anjing menyantap makanan. Conditioned respon (CR) adalah respon yang telah dipelajari , yakni respon yang terkondisikan yang muncul setelah terjadi pasangan US-CS (Santrock:2010)

Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing. Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. Kini sebelum makanan diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu, baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula.

Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasaan dpat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan. Ketika lonceng dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan. Dalam eksperimen ini terjadi tiga proses generalisasi, diskriminasi dan pelenyapan. Generalisasi dalam pengkondisian klasik adalah tendensi dari stimulus baru yang sama dengan conditioned  stimulus yang asli untuk menghasilkan respon yang sama(  Jones dalam Santrock : 2010) . Diskriminasi dalam pengkondisian klasik terjadi ketika organisme merespon stimuli tertentu tetapi tidak terjadi respon. Pelenyapan (extinction) dalam pengkondisian klasik adalah pelemahan CR( conditioned respon)  karena tidak adanya uncoditioned stimulus (US).

Apakah situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan sehar-hari ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai contoh, suara lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. Awalnya mungkin suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas. Bayangkan, bila tidak ada lagu tersebut betapa lelahnya si penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Contoh lai adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. Tanpa disadari, terjadi proses menandai sesuatu yaitu membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan(rujak, es, nasi goreng, siomay) yang sering lewat di rumah, bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah . Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.

Pengkondisian klasik dalam ruang lingkup kelas dapat berupa pengalaman negatif dan positif dalam diri anak. Diantara hal-hal disekolah anak menghasilkan kesenangan jika kelas dikondisikan dengan situasi yang aman, nyaman dan menyenangkan dikarenakan mempunya guru yang hangat dan perhatian. Sebaliknya kelas akan takut jika mereka mengasosiakan kelas dengan teguran , ancaman dan rasa takut.

Pengkondisian klasik membantu kita memahami beberapa aspek pembelajaran yang lebih baik. Cara ini membantu menjelaskan bagaimana stimuli netral menjadi asosiasi dengan respon yang tidak bisa dipelajari dan sukarela. Ini sangat membantu untuk memahami kecemasan dan ketakutan murid.

 

Edward Edward Lee Thorndike (1874-1949)

Teori Belajar Koneksionisme / Hukum Efek

Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895, S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903), Mental and social Measurements (1904), Animal Intelligence (1911), Ateacher’s Word Book (1921),Your City (1939), dan Human Nature and The Social Order (1940).

Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberi sumbangan yang cukup besar di dunia pendidikan tersebut maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan.

Percobaan Thorndike yang terkenal dengan binatang coba kucing yang telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan response lagi, demikian selanjutnya.

        Dalam percobaan tersebut apabila di luar sangkar diletakkan makanan, maka kucing berusaha untuk mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari. Dengan tidak tersengaja kucing telah menyentuh kenop, maka terbukalah pintu sangkar tersebut, dan kucing segera lari ke tempat makan. Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali, dan setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12 kali, kucing baru dapat dengan sengaja enyentuh kenop tersebut apabila di luar diletakkan makanan.

Dari percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut :

  1. Hukum Kesiapan(law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.

Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskanPrinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan.

Masalah pertama hukum law of readiness adalah jika kecenderungan bertindak dan orang melakukannya, maka ia akan merasa puas. Akibatnya, ia tak akan melakukan tindakan lain. Masalah kedua, jika ada kecenderungan bertindak, tetapi ia tidak melakukannya, maka timbullah rasa ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya. Masalah ketiganya adalah bila tidak ada kecenderungan bertindak padahal ia melakukannya, maka timbullah ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.

  1. Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan) , maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.

Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai.

  1.   Hukum akibat(law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah  jika akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi.

Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah, tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Misalnya, bila anak mengerjakan PR, ia mendapatkan muka manis gurunya. Namun, jika sebaliknya, ia akan dihukum. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya. Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia, walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai pengartian. Binatang melakukan respons-respons langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara mekanis .

Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut:

    1. Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response).

       Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh prooses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

    1. Hukum Sikap ( Set/ Attitude).

       Hukum ini menjelaskan bahwa perilakku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif, emosi , sosial , maupun psikomotornya.

    1. Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element).

       Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi ( respon selektif).

    1. Hukum Respon by Analogy.

       Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah.

    1. Hukum perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting)

       Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama.

            Pertanyaan utama untuk Thorndike adalah bagaimana respon stimulus yang benar ini menguat dan akhirnya mengalahkan stimulus yang tidak benar. Pandangan Thorndike disebut sebagai teori S-R karena perilaku organisme itu dilakukan sebagai akibat dari hubungan antara stimulus dan respon.

Hukum efek dari penelitian Thorndike membantu kita memahami beberapa aspek pembelajaran yang lebih baik. Cara ini membantu menjelaskan bahwa dengan memberikan rasa aman dan nyaman serta penguatan penguatan positif cenderung apa yang dilakukan akan dilakukan kembali sebagai konsekuensi terhadap apa yang dilakukan.

Burrhus Frederic Skinner (1904-1990).

Pengkondisian Operan Skinner

B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.

Seperti halnya kelompok penganut psikologi modern, Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism. Dalam perkembangan psikologi belajar, ia mengemukakan teori operant conditioning. Buku itu menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946 dalam masalah “The Experimental an Analysis of Behavior”.  Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of the Experimental Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika (Sahakian,1970) .Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan.

Menajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yanag tidak tepat. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.

Skinner membuat eksperimen sebagai berikut : Dalam laboratorium Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan yaitu tombol, alat pemberi makanan, penampung makanan, lampu yangdapat diatur nyalanya, dan lantai yanga dapat dialir listrik. Karena dorongan lapar tikus beruasah keluar untuk mencari makanan. Selam tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shapping.

Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung merpati Skinner mengatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Bentuk bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku, atau penghargaan. Bentuk bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang.

Penguatan (reinforcment) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya sebuah perilaku. Impikasi dalam proses pembelajaran , penguatan positif bisa dilihat ketika sang guru memberikan komentar positif untuk meningkatkan perilaku menulis anak , atau memuji orang tua yang hadir dalam rapat orang tua dan guru, mungkin ini akan mendorong akan ikut rapat lagi. Penguatan lainnya adalah penguatan negatif , misalnya sang ayah mengomeli anaknya agar mau mengerjakan PR, anak mengerjakan PR nya dengan harapan ayahnya tidak mengomel lagi.

Beberapa prinsip Skinner yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran antara lain :

    1. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika bebar diberi penguat.
    2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
    3. Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
    4. Dalam proses pembelajaran, tidak digunkan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah, untukmenghindari adanya hukuman.
    5. dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri.
    6. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel Rasio rein forcer.
    7. Dalam pembelajaran digunakan shaping.

 

Aplikasi  Teori Belajar Behavioristik

Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana samapi pada yang kompleks.

Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak.

            Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti :

Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian. Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif , perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oelh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.

Teori Pembelajaran Konstruktivistik

Suatu revolusi sedang terjadi di dalam psikologi pendidikan, yaitu dengan munculnya teori pembelajaran konstruktivisme. Esensi dari teori konstruktivisme adalah adanya ide bahwa siswa harus secara individu menemukan dan menstrafer informasi-informasi kompleks apabila mereka harus menjadikan informasi miliknya sendiri (Brooks, 1990; Leinhardt, 1992; Brown et.al.. 1999). Teori ini sangat berlawanan dengan teori behaviorisme.

Teori konstruktivisme memandang siswa harus aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri dibandingkan dengan apa yang saat itu dilaksanakan pada mayoritas kelas. Karena teori konstruktivisme pene-kanannya pada siswa sebagai siswa aktif, maka strategi pengajaran yang terpusat pada siswa maka disebut student-centered instruction. Di dalam kelas yang terpusat pada siswa maka peran guru adalah membantu siswa menemukan fakta, konsep, prinsip bagi diri mereka sendiri.

            Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Slavin : 2010 bahwa salah satu prinsip terpenting dalam psikologi pendidikan , guru tidak dapat hanya memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuan dalam pikiranya sendiri. Teori pembelajaran konstruktivistik mensarikan dalam sebuah teori bahwa pelajar masing-masing harus menemukan dan mengubah informasi yang rumit kalau mereka ingin menjadikan milik sendiri.

Akar Sejarah Konstruktivisme

            Revolusi Konstruktivisme mempunyai akar yang jauh dalam sejarah pendidikan , lahir dari gagasan Piaget dan Vygotsky, dimana keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsep yang dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidak-seimbangan dalam upaya memahami informasi-informasi baru. Piaget dan Vygotsky juga menekankan hakekat sosial dari belajar, dan keduanya me-nekankan belajar secara kelompok, dengan anggota kelompok yang ber-beda-beda untuk mengupayakan perubahan konseptual.

            Ide-ide konstruktivisme modern banyak berlandaskan pada teori Vygotsky. Yang menekankan pada metode pengajaran kooperatif, pembe-lajaran berbasis proyek, dan penemuan. Empat teori kunci dari teori kon-struktivisme adalah; (1) Penekanan pada hakekat sosial dari belajar; (2) Bahwa siswa belajar konsep paling baik apabila konsep tersebut berada dalam zona perkembangan terdekat mereka; (3) Pemagangan kognitif; dan (4) Scaffolding atau Mediated Learning.

            Teori konstruktivisme menekankan pada hakekat sosial dari belajar, ia mengemukakan bahwa siswa dapat belajar melalui interaksi dengan teman sebaya dan orang dewasa. Misalnya dalam metode belajar kooperatif, siswa diharapkan pada proses berpikir dengan teman sebaya mereka, hal ini membuat hasil belajar terbuka untuk seluruh siswa dan proses berpikir siswa terbuka untuk seluruh siswa. Vygotsky juga memper-hatikan, bahwa setiap siswa harus mampu memecahkan masalahnya sendiri dengan langkah-langkah mereka sendiri.

            Konsep kedua, bahwa dalam belajar, siswa yang paling baik adalah apabila konsep yang dipelajari dalam zona perkembangan terdekat mere-ka. Misalnya, bila anak tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas mereka sendiri,maka akan dibantu oleh teman sebaya atau orang dewasa. Misal-nya bila siswa tidak dapat menemukan median dari suatu bilangan ter-tentu, kemudian atas bantuan guru dapat menemukan median tersebut, maka boleh jadi penemuan itu masih berada dalam zona perkembangan siswa tersebut.

            Pemagangan kognitif atau cognitive opprenticeship, istilah ini mengacu bahwa proses dimana seseorang belajar secara tahap demi tahap untuk memperoleh keahliannya dengan interaksi pada seorang pakar. Pakar disini boleh jadi orang yang lebih tua atau teman sebaya yang telah menguasai terlebih dahulu permaslahannya. Dalam banyak hal, pekerja didampingi oleh seorang pekerja lain yang sudah ahli, berpengalaman yang bertindak sebagai model, dengan memberi balikan kepada pekerja yang belum berpengalaman tahap demi tahap dalam mensosialisasikan keahlian, norma dan profesi tersebut. Mengajar siswa di dalam kelas menurut teori konstruktivismen adalah suatu pemagangan, dimana pentransferan model pengajaran dan pembelajaran yang efektif ini kreativitas siswa di dalam kelas, dengan cara melibatkan siswa dalam tugas-tugas kompleks mapun membantu mereka mengatasi tugas-tugas tersebut. Artinya siswa yang kurang pandai dibantu temannya dalam me-nyelesaikan tugasnya.

            Scaffolding atau Mediated Learning, teori konstruktivisme ini menekankan bahwa siswa seharusnya diberikan tugas-tugas kompleks, sulit, dan realistik dan kemudian siswa diberi bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugas ini. Prinsip ini digunakan untuk menunjang pembe-rian tugas yang kompleks di dalam kelas, seperti simulasi, eksplorasi di masyarakat, menulis untuk dipresentasikan ke pendengar, dan tugas-tugas autentik sehingga pembelajaran tersebut dapat dideskripsikan dalam kehidupan nyata dan autentik.

Proses Top-Down

            Top-Down artinya bahwa siswa mulai dengan masalah-masalah yang kompleks untuk dipecahkan dan selanjutnya berusaha memecahkan atau menemukan (dengan bantuan guru) keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan. Sebagai contoh siswa diminta untuk menuliskan suatu susunan kalimat, dan baru kemudian belajar tentang mengeja, tata baha-sa, dan tanda baca. Pendekatan ini berlawanan dengan bottom-up tradisional, artinya keterampilan dasar secara bertahap dilatihkan untuk mewujudkan keterampilan yang lebih kompleks.

            Sebagai contoh dalam pembelajaran matematika, secara tradisi-onal dengan pendekatan bottom-up untuk mengajarkan perkalian bilangan dua digit dengan bilangan satu digit (contoh 4 X 12 = 48) adalah meng-ajarkan siswa mengerjakan langkah demi langkah untuk mendapatkan jawaban benar. Hanya setelah mereka menguasai keterampilan dasar ini, mereka baru diberi masalah terapan dasar sederhana. Misalnya “Tono melihat permen yang masing-masing harganya 50 rupiah. Berapa ia membayar jika ia mengambil 4 buah permen?”. Pendekatan konstruk-tivisme bekerja secara sebaliknya, dimulai dengan masalah yang muncul dari siswa dan selanjutnya membantu siswa mnyelesaikan bagaimana menemukan langkah-langkah memecahkan masalah tersebut.

 

Aspek-aspek Pembelajaran Konstruktivistik

Fornot mengemukakan aaspek-aspek konstruktivitik sebagai berikut: adaptasi (adaptation), konsep pada lingkungan (the concept of envieronmet), dan pembentukan makna (the construction of meaning). Dari ketiga aspek tersebut oleh J. Piaget  bermakna adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.

Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru perngertian orang itu berkembang.

Akomodasi, dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bias jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Bagi Piaget adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidaksetimbangan (disequilibrium). Akibat ketidaksetimbangan itu maka tercapailah akomodasi dan struktur kognitif yang ada yang akan mengalami atau munculnya struktur yang baru. Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidaksetimbangan dan keadaan setimbang (disequilibrium-equilibrium). Tetapi bila terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

Tingkatan pengetahuan atau pengetahuan berjenjang ini oleh Vygotskian disebutnya sebagai scaffolding. Scaffolding, berarti membrikan kepada seorang individu sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan pembelajar dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri. Vygotsky mengemukakan tiga kategori pencapaian siswa dalam upayanya memecahkan permasalahan, yaitu (1) siswa mencapai keberhasilan dengan baik, (2) siswa mencapai keberhasilan dengan bantuan, (3) siswa gagal meraih keberhasilan. Scaffolding, berarti upaya pembelajar untuk membimbing siswa dalam upayanya mencapai keberhasilan. Dorongan guru sangat dibutuhkan agar pencapaian siswa ke jenjang yang lebih tinggi menjadi optimum.

Konstruktivisme Vygotskian memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan memalui adaptasi intelektual dalam konteks social budaya. Proses penyesuaian itu equivalent dengan pengkonstruksian pengetahuan secara intra individual yakni melalui proses regulasi diri internal. Dalam hubungan ini, para konstruktivis Vygotskian lebih menekankan pada penerapan teknik saling tukar gagasan antar individual.

Dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah: (1),  mengenai fungsi dan pentingnya bahasa dalam komunikasi social yang dimulai proses pencanderaan terhadap tanda (sign) sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan, (2) zona of proximal development. Pembelajar sebagai  mediator memiliki peran mendorong dan menjembatani siswa dalam upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan kompetensi.

Sumbangan penting teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat pembelajaran sosiakultural. Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan social pembelajaran. Menurut teori Vygotsky, funsi kognitif manusia berasal dari interaksi social masing-masing individu dalam konteks budaya. Vygotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka. Zona  of proximal development adalah daerah antar tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu.

Pengetahuan  dan pengertian dikonstruksi bila seseorang terlibat secara social dalam dialog dan aktif dalam percobaan-percobaan dan pengalaman. Pembentukan makna adalah dialog antar pribadi.dalam hal ini pebelajar tidak hanya memerlukan akses pengalaman fisik tetapi juga interaksi dengan pengalaman yang dimiliki oleh individu lain. Pembelajaran yang sifatnya kooperatif (cooperative learning) ini muncul ketika siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan belajar yang diinginka oleh siswa. Pengelolaan kelas menurut cooperative learning bertujuan membantu siswa untuk mengembangkan niat dan kiat  bekerja sama dan berinteraksi dengna siswa yang lain. Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas yaitu: pengelompokan, semangat kooperatif dan penataan kelas.

Secara singkat teori Peaget dan Vygotsky dapat dikemukakan dalam tabel berikut ini.

Tabel. 1 Piagetian and Vygotskyan Constructivism

           

Piagetian Constructivism

Vygotsky Constructivism

Concept

constructivism focus on individual cognitive development through co-constructed learning environments with national, decontextualized thinking as the goal of development

Vygotsky, in order to understand human development, a multilevel analysis using all four levels of  history must be employed: sosiocultural constructivism,

Subject of  Study

Focus on the development of autonomous cognitive forms within the individual, culminating in rational thought that is decentered from the individual.

argued that individual development cannot be understood without reference to the interpersonal and institutional surround which situates the child

Develop-ment of cognitive forms

the structure of the mind is the source of our understanding of the world.

 

the construction of knowledge occurs through interaction in the social world. Thus for Vygotsky the development of cognitive forms occurs by means of the dialectical relationship between the individual and the social context

 

Rancangan Pembelajaran Konstruktivistik

Berdasarkan teori J. Peaget dan Vygotsky  yang telah dikemukakan di atas maka pembelajaran dapat dirancang/didesain model pembelajaran konstruktivis di kelas sebagai berikut:

Pertama, identifikasi prior knowledge dan miskonsepsi. Identifikasi awal terhadap gagasan intuitif yang mereka miliki terhadap lingkungannya dijaring untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan akan munculnya miskonsepsi yang menghinggapi struktur kognitif siswa. Identifikasi ini dilakukan dengan tes awal, interview

Kedua, penyusunan program pembelajaran. Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan pelajaran.

Ketiga orientasi dan elicitasi, situasi pembelajaran yang kondusif dan mengasyikkan sangatlah perlu diciptakan pada awal-awal pembelajaran untuk membangkitkan minat mereka terhadap topic yang akan dibahas. Siswa dituntun agar mereka mau mengemukakan gagasan intuitifnya sebanyak mungkin tentang gejala-gejala fisika yang mereka amati dalam lingkungan hidupnya sehari-hari. Oengungkapan gagasan tersebut dapat memalui diskusi, menulis, ilustrasi gambar dan sebagainya. Gagasan-gagasan tersebut kemudian dipertimbangkan bersama. Suasana pembelajaran dibuat santai dan tidak menakutkan agar siswa tidak khawatir dicemooh dan ditertawakan bila gagasan-gagasannya salah. Guru harus menahan diri untuk tidak menghakiminya. Kebenaran akan gagasan siswa akan terjawab dan terungkap dengan sendirinya melalui penalarannya dalam tahap konflik kognitif.

Keempat, refleksi. Dalam tahap ini, berbagai macam gagasan-gagasan yang bersifat miskonsepsi yang muncul pada tahap orientasi dan elicitasi direflesikan dengan miskonsepsi yang telah dijaring pada tahap awal. Miskonsepsi ini diklasifikasi berdasarkan tingkat kesalahan dan kekonsistenannya untuk memudahkan merestrukturisasikannya.

Kelima, resrtukturisasi ide, (a) tantangan, siswa diberikan pertanyaan-pertanyaan tentang gejala-gejala yang kemudian dapat diperagakan atau diselidiki dalam praktikum. Mereka diminta untuk meramalkan hasil percobaan dan memberikan alas an untuk  mendukung ramalannya itu. (b) konflik kognitif dan diskusi kelas. Siswa akan daapt melihat sendiri apakah ramalan mereka benar atau salah. Mereka didorong untuk menguji keyakinan dengan melakukan percobaan. Bila ramalan mereka meleset, mereka akan mengalami konflik kognitif dan mulai tidak puas dengan gagasan mereka. Kemudian mereka didorong untuk memikirkan penjelasan paling sederhana yang dapat menerangkan sebanyak mungkin gejala yang telah mereka lihat. Usaha untuk mencari penjelasan ini dilakukan dengan proses konfrontasi melalui diskusi dengan teman atau guru yang pada kapasistasnya sebagai fasilitator dan mediator. (c) membangun ulang kerangka konseptual. Siswa dituntun untuk menemukan sendiri bahwa konsep-konsep yang baru itu memiliki konsistensi internal. Menunjukkan bahwa konsep ilmiah yang baru itu memiliki keunggulan dari gagasan yang lama.

Keenam, aplikasi. Menyakinkan siswa akan manfaat untuk beralih konsepsi dari miskonsepsi menuju konsepsi ilmiah. Menganjurkan mereka untuk menerapkan konsep ilmiahnya tersebut dalam berbagai macam situasi untuk memecahkan masalah yang instruktif dan kemudia menguji penyelesaian secara empiris. Mereka akan mampu membandingkan secara eksplisit miskonsepsi mereka dengan penjelasa secara keilmuan.

Ketujuh, review dilakukan untuk meninjau keberhasilan strategi pembelajaran yang telah berlangsung dalam upaya mereduksi miskonsepsi yang muncul pada awal pembelajaran. Revisi terhadap strategi pembelajaran dilakukan bila miskonsepsi yang muncul kembali bersifat sangar resisten. Hal ini penting dilakukan agar miskonsepsi yang resisten tersebut tidak selamanya menghinggapi struktur kognitif, yang pada akhirnya akan bermuara pada kesulitan belajar dan rendahnya prestasi siswa bersangkutan.

 

Pembelajaran Kooperatif

            Berdasarkan teori ini bahwa siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok (4 orang dalam satu kelompok) untuk saling membantu meme-cahkan masalah yang kompleks. Disini sangat terlihat bahwa Piaget dan Vygotsky menekankan pada hakekat sosial dalam belajar dan penggu-naan kelompok sejawat untuk memodelkan cara berpikir yang sesuai dan saling mengemukakan dan menantang miskonsepsi-miskonsepsi diantara mereka sendiri.

Pembelajaran dengan Penemuan

            Dalam pembelajaran dengan penemuan, siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsi-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk me-miliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mere-ka menemukan prinsip-prinsip untuk diri merkea sendiri. Sebagai contoh siswa diberi sederet silinder dengan ukuran dan berat yang berbeda-beda. Siswa disuruh menggelindingkan di bidang miring. Bila percobaan terse-but dilakukan dengan benar, maka siswa akan dapat menemukan prinsip-prinsip utama yang menentukan kecepatan silinder tersebut.

            Penerapan teori pembelajaran dengan penemuan di dalam kelas, guru harus mampu mendorong siswa mandiri sedini mungkin sejak awal masuk sekolah. Guru harus mendorong siswa untuk memecahkan masa-lahnya sendiri, bukan mengajarkan mereka jawaban dari masalah yang di-hadapi siswa tersebut. Siswa akan mendapatkan keuntungan jika mereka melakukan dan melihat sesuatu daripada hanya mendengarkan ceramah.

Pembalajaran Generative atau Generative Learning 

            Teori belajar ini berasumsi bahwa belajar itu ditemukan. Artinya apabila kita menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka harus melaku-kan operasi mental dengan informasi baru itu untuk masuk ke dalam pemahamannya. Sebagai contoh, siswa diminta membuat pertanyaan-pertanyaan untuk diri mereka sendiri, ikhtisar, dan analogi tentang materi yang telah mereka baca. Kegiatan generative ini telah memberikan sumbangan kepada hasil belajar dan ingatan siswa. Strategi membuat soal misalnya, ini sangat efektif bila dikombinasikan dengan pembelajaran kooperatif.

 

Pembelajaran dengan Pengaturan Diri Sendiri atau Self Regulated     Learning

            Salah satu konsep teori konstruktivisme adalah menganut visi siswa ideal sebagai seorang pelajar yang memiliki kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri atau self regulated learner. Self regulated learner adalah seseorang yang memiliki pengetahuan tentang strategi belajar efektif dan bagaimana atau kapan menggunakan pengetahuan itu. Seba-gai contoh, siswa mampu memecahkan masalah kompleks menjadi lang-kah-langkah yang lebih sederhana atau menguji cobakan solusi alter-natif; siswa tahu bagaimana dan kapan membaca buku sepintas dan kapan membaca buku untuk memperdalam pengetahuan, serta mereka tahu bagaimana menulis untuk meyakinkan dan bagaimana menulis untuk memberi informasi. Tidak hanya itu, siswa mempunyai motivasi internal bukan karena nilai atau motivasi eksternal yang lain, dan siswa mampu tetap menekuni tugas berjangka panjang sampai tugas itu terselesaikan.

 

Scaffolding

            Scaffolding didasarkan pada konsep Vygotsky tentang konsep belajar bantuan untuk berpikir dengan simbol-simbol di dalam memori dan atensi dibutuhkan sebuah media. Fungsi guru disini adalah agen budaya yang memandu pengajaran sehingga siswa akan menguasai secara tuntas keterampilan-keterampilan yang memungkinkan fungsi kognitif bekerja lebih tinggi. Kemampuan untuk belajar secara tuntas sangat berkaitan dengan usia dan perkembangan kognitif siswa.

            Di dalam penggunaan sehari-hari scaffolding, yaitu pemberian ban-tuan kepada siswa bantuan yang lebih terstruktur pada awal pelajaran dan secara bertahap mengaktifkan tanggung jawab kepada siswa untuk beker-ja atas arahan diri mereka sendiri.

Ciri-ciri Guru yang Berpandangan Konstruktivisme

  1. Menerima dan mendorong kemandirian dari inisiatif siswa
  2. Menggunakan data mentah dan sumber-sumber primer bersama-sama dengan bahan-bahan yang bersifat manipulatif, interatif dan fisik.
  3. Bila merumuskan tugas-tugas menggunakan istilah-istilah kognitif, seperti: klasifikasikan, analisa, ramalkan (predisikan) dan ciptakan.
  4. Memperkenankan siswa menarik kesimpulan dari pelajaran, mengubah strategi pembelajaran, dan mengubah bahan pembelajaran (content).
  5. Meneliti pemahaman siswa tentang konsep-konsep sebelum mengemukakan pemahamannya sendiri tentang konsep-konsep tersebut.
  6. Memberanikan siswa terlibat dalam dialog, baik dengan guru maupun dengan kawan lain.
  7. Memberanikan siswa mempertanyakan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berisi pemikiran, pertanyaan-pertanyaan terbuka dan memberanikan siswa saling bertanya.
  8. Menemukan elaborasi dari respon-respon awal siswa.
  9. Melibatkan siswa dalam pengalaman-pengalaman yang mungkin menimbulkan kontradiksi dengan hipotesis-hipotesis awal mereka dan kemudian mendorong diskusi.
  10. Memberikan waktu tunggu sesudah mengajukan pertanyaan.
  11. Memberikan waktu kepada siswa membangun hubungan-hubungan dan menciptakan metafor-metafor.
  12. Memupuk hasart ingin tahu alamiah siswa melalui penggunaan secara sering “model siklus belajar”

Proses Pembelajaran Konstruktivisme untuk Anak Usia Dini

Beberapa tokoh psikologi pendidikan dan perkembangan anak muncul, misalnya; Piaget, Vygotsky, Montessori, Clark, Trefinger, Morri-son, dan sebagainya. Konsekuensi dari perkembangandan atau perubah-an konsepsi, maka paradigma pendidikan anak usia dini pun terjadi perubahan (paradigsm in shift) dan perubahan ini akan terus berlanjut (constant in flux). Perubahan ini dapat dilacak dari: (1) family centered program, bermakna bagi keluarga; (2) two generation program, bekerja dengan anak dan keluarga; (3) collaborative efforts with other agencies, membangun kerja sama denga yang lain; (4) ecological/holistic approach, pendekatan kebutuhan psikologis, sosial, emosi, kognisi; (5) child and families centered program, terfokus pada kebutuhan anak (SEN, Specific Education Needs) dan kebutuhan keluarga (SAL, Specific Accelerated Learning); (6) psychodelicate, DAP, Developmentally Appropriate Practice (pembelajaran disesuaikan dengan perkembangan anak baik fisik, kognitif, motorik, emosi, dan sosial).

            Anak itu unik, memiliki potensi yang misteri dan luar biasa. Ada anak yang gifted dan talented, ada yang normal, ada pula yang under. Namun anak merupakan makhluk yang memiliki kapasitas yang terbuka (unlocking human capacity) atau istilah Conny (2002), hidden exellence in personhood, secara pribadi memiliki keunggulan yang tersebunyi. Oleh karenanya, pendidikan multikultural untuk anak sangat perlu diperhatikan.

            Selama ini guru sering menginterpretasikan konsep belajar yang salah, karena pengajaran berorientasi pada guru, bukan kepada siswa. Siswa itu ingin bergerak bebas, banyak mencoba. Sebaliknya ia akan sulit jika terdiam, pasif hanya mendengar omongan guru. Seharusnya kebu-tuhan anak dipahami, guru harus berpedoman pada developmentally appropriate practice. Perkembangan ilmu ilmu perlu dipahami guru dan guru perlu memahami perkembangan teknologi informasi, internet, komputer, dan sebagainya

            Pembelajaran, bagi Vygotsky, tekanannya adalah konstruksi sosial. Proses pembelajaran pada anak harus disesuaikan dengan perilaku yang relevan dengan kulturalnya. Piaget menekankan pembelajaran pada teori konstruktivitas pribadi. Vygotsky memandang, perkembangan kognitif me-rupakan transformasi dasar biologis yang merupakan fungsi psikologis tingkat tinggi. Anak lahir memiliki rentang kemampuan persepsi, perhatian dan memori yang ditransformasikan dalam konteks sosial dan pendidikan. Transformasi dalam bentuk hukum, sosial, dan bahasa sebagai sarana memenuhi kebutuhan tertentu yang menjadi fungsi psikologis kognisi tinggi. Manusia memiliki sifat binatang, tetapi mampu berperilaku berda-sarkan kapabilitas persepsi, perhatian, dan psikologisnya.

            Vygostky juga mengembangkan teori yang disebut “Zone of Proxi-mal Development” (ZPD). ZPD merupakan posisi jarak antara tingkat prkembangan aktual dan potensial. Perkembangan aktual ditandai, dalam pemecahan problem anak dapat mandiri. Tingkat perkembangan poten-sial, diperlukan bimbingan orang dewasa atau kerja sama teman sebaya. Jarak perkembangan aktual menuju potensial dinamakan oleh Vygotsky Scaffolded Instruction atau pembelajaran bertangga. Ada tiga prinsip yang dikembangkan: (1) holistik meaningful; ( 2) konteks sosial, melalui belajar; dan (3) peluang berubah dan berhubungan tidak tetap dan saling berkaitan.

            Oleh karena itu guru perlu mempertimbangkan pendekatan pembe-lajaran hubungan timbal balik (Reciprocal Teaching Approach). Anak diha-dapkan pada tantangan dan keterlibatan dalam aktivitas di atas tingkat perkembangannya. Pemahaman sosial kultural anak itu penting. Dinami-ka, perangkat dan konteks sosial anak harus dipahami oleh guru. Guru dikatakan terampil apabila praktek pembelajaran dalam konteks sosial anak. ZPD anak dibentuk oleh kebudayaan dan lingkungan sosialnya.

            Prinsip pembelajaran untuk menumbuhkan fungsi dalam proses kematangan ZPD melalui empat tahap: (1) kinerja dibantu oleh more capable others; (2) less dependence external assistance: kinerjanya itu diinternali-sasikan dan berani mengambil tanggungjawab atas keluasan-nya asumsi berdasar kemampuan sendiri (multiassume responsibility for self guidance); (3) tahap kinerja automatisasi; dan (4) tahap recursion, deautomatisation: sesuatu dilakukan berulang, dengan penghayatan; dan ZPD dimulai lagi dari permulaan dan dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Dengan demikian implikasinya bagi pendidikan adalah perlu ada mindshift (kesadaran intelektual). Semua anak diberi kesempatan mem-peroleh pendidikan, dilayani sedemikian sesuai dengan kebutuhan. Di dalam suatu masyarakat atau bangsa target kelompok itu beragam. Oleh karena itu diperlukan pendidikan multikultural.

                        Selama ini guru sering menginterpretasikan konsep belajar yang salah. Pengajaran berorientasi pada guru, bukan kepada anak. Siswa itu ingin bergerak bebas, banyak mencoba. Sebaliknya ia susah jika terdiam, pasif hanya mendengar omongan guru. Seharusnya kebutuhan anak dipahami. Guru harus berpedoman pada developmentally appropriate practice. Perkembangan ilmu perlu dipahami guru., Guru perlu memahami perkembangan teknologi informasi, internet, komputer, dsb.

Ilmu Pendidikan merupakan common ground dari beberapa kajian ilmu pendidikan lainnya, misal: Teknologi Pendidikan, Psikologi Pendi-dikan, dan Pendidikan Usia Dini. Suatu ilmu dapat berdiri sendiri, apabila memenuhi tiga persyaratan mutlak ilmu baru, yaitu: (1) Ada justifikasi temuan dari para ahli; (2) Ilmu itu bersifat holistik, sistematis dan sistemik; (3) Intersubjectivity (berkaitan dengan ilmu-ilmu lainnya).

Perbandingan Pembelajaran Behaviristik dan Konstruktivistik

Telaah Aspek Hakikat Pembelajaran Behavioristik dan Pembelajaran Konstruktivistik

a. Hakikat Pembelajaran Behavioristik

Thornike, salah seorang penganut paham behavioristik, menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang sisebut stimulus (S) dengan respon ® yang diberikan atas stimulus tersebut. Pernyataan Thorndike ini didasarkan pada hasil eksperimennya di laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing, monyet, dan ayam. Menurutnya, dari berbeagai situasi yang diberikan seekor hewan akan memberikan sejumlah respon, dan tindakan yang dapat terbentuk bergantung pada kekuatan keneksi atau ikatan-ikatan antara situasi dan respon tertentu. Kemudian ia menyimpulkan bahwa semua tingkah laku manusia baik pikiran maupun tindakan dapat dianalisis dalam bagian-bagian dari dua struktur yang sederhana, yaitu stimulus dan respon. Dengan demikian, menurut pandangan ini dasar terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara stimulus dan respon.

Selanjutnya, Thorndike (dalam Orton, 1991:39-40; Resnick, 1981:13) mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hokum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise), yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon serting terjadi, maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. Interpretasi dari hokum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan – yang telah terbentuk akibat tejadinya asosiasi antara stimulus dan respon – dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat; (2) Hukum akibat (law of effect), yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Hal ini berarti (idealnya), jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya, maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat.

Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner, berpendapat hamper senada dengan hokum akibat dari Thorndike. Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus – respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negative. Penguatan positif sebagai stimulus, apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Sedangkan penguatan negative adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell, 1981:151).

b. Hakikat pembelajaran Konstruktivisme

Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.

Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif  mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.

Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar.

Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan, (2) mengutamakan proses, (3) menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman social, (4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman.

Hakikat pembelajaran konstruktivistik oleh Brooks & Brooks dalam Degeng mengatakan bahwa pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar berarti menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergentung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.

Pembelajaran  konstruktivistik dan pembelajaran behavioristik yang dikemukakan oleh Degeng dapat dilihat pada table-tabel berikut.

Table. 2

Pandangan Konstruktivistik dan behavioristik tentang belajar dan pembelajaran.

 

Konstruktivistik

Behavioristik

Pengtahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu.

Pengetahuan adalah objektif, pasti, dan tetap , tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi.

Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna seta menghargai ketidakmenentuan.

Belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar.

Si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.

Si belajar akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar itulah yang harus dipahami oleh si belajar. 

Mind berfungsi sebagai alat untuk menginterpretasi peristiwa, objek, atau perspektif yang ada dalam dunia nyata sehingga makna yang dihasilkan bersifat unik dan individualistic. 

Fungsi mind adalah menjiplak struktur pengetahuan melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan.

 

 

 

Table .3

Pandangan Konstruktivistik dan Behavioristik tentang

Penataan Lingkungan Belajar       

                

Konstruktivistik

Behavioristik

Ketidakteraturan, ketidakpastian, kesemrawutan,

Keteraturan, kepastian, ketertiban

Si belajar harus bebas. Kebebasan menjadi unsure yang esensial dalam lingkungna belajar.

Si belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dahulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial. Pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin.

Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai.

Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.

Kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Si belajar adalah subjek yang harus memapu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar.

Ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Si belajar adalah objek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan.

Control belajar dipegang oleh si belajar.

Control belajar dipegang oleh system yang berada di luar diri si belajar.

 

Table 4

Pandangan Konstruktivistik dan behavioristik tentang Tujuan Pembelajaran

Konstruktivistik

Behavioristik

Tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana belajar (learn how to learn)

Tujuan belajar ditekankan pada penambahan pengetahuan.

 

Tabel.5

pandangan Konstruktivistik dan behavioristik tentang strategi pembelajaran

Konstruktivistik

Behavioristik

Penyejian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan-ke-bagian.

 

Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan si belajar.

 

Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis.

 

Pembelajaran menekankan pada proses.

Penyajian isi menekankan pada keterampilan yang terisolasi dan akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian-ke-keseluruhan.

 

Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat.

 

Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks.

 

Pembelajaran menekankan pada hasil 

 

Tabe l.6

Pandangan Konstruktivistik dan Behavioristik tentang evaluasi

 

Konstruktivistik

Behavioristik

Evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan terintegrasi, dengan menggunakan masalah dalam konsteks nyata.

 

Evaluasi yang menggali munculnya berpikir divergent, pemecahan ganda, bukan hanya satu jawaban benar

 

 

Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermkana serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. evaluasi menekankan pad aketerampilan proses dalam kelompok.

Evaluasi menekankan pada respon pasif, keterampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan ‘paper and pencil test’

 

 

Evaluasi yang menuntu satu jawaban benar. Jawaban benar menunjukkan bahwa si-belajar telah menyelesaikan tugas belajar.

 

Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasnaya dilakukan setelah kegiatan belajar dengan penekanan pada evaluasi individual.

 

         




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment


Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat



Komentar Terakhir

  • Zen

    Assalamualaikum Pak. Kalau boleh tau, referensinya DESCA ini apa ya Pak? Terima ...

    View Article
  • Nur Hidayah

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Nama: Nur Hidayah NIM: 1605065052 Kelas: B Program ...

    View Article
  • maisin ajan

    Nama : Maisin Ajan Nim : 1605065065 Program Studi : Pendidikan Ekonomi Tema : Pandangan Teori ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video